Halaman

Minggu, 16 April 2023

natural theologi

Dari buku "God, Freedom, and Evil" karya Alvin Plantinga, dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Argumen kosmologis mengatakan bahwa setidaknya ada satu makhluk yang diperlukan untuk menjaga keberadaan alam semesta, yang disebut "necessary being," dan dianggap sebagai Allah oleh Plantinga.

  2. Argumen teleologis menyatakan bahwa adanya desain atau rancangan dalam alam semesta menunjukkan adanya entitas yang memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang mutlak tentang masa depan dan keadaan alam semesta, yang merupakan Tuhan yang sesungguhnya. Namun, kritik David Hume menyatakan bahwa argumen Paley kurang kuat karena tidak bisa menunjukkan bahwa entitas yang menciptakan alam semesta adalah Tuhan yang satu dan tunggal.

  3. Argumen ontologis menyatakan bahwa keberadaan Tuhan tidak hanya ada dalam pemikiran manusia, tetapi juga ada dalam kenyataan. Argumen ontologis Anselm menyatakan bahwa ada entitas yang tidak mungkin lebih besar lagi, dan jika konsep tentang entitas tersebut ada, maka entitas tersebut pasti ada dalam kenyataan. Namun, kritik terhadap argumen ini menyatakan bahwa analogi antara ide sebuah pulau yang paling besar dengan ide Tuhan yang paling besar tidak tepat.

  4. Evolusi tidak mengancam keberadaan Tuhan sebagai pencipta, karena Tuhan dapat mengarahkan evolusi untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya.

  5. Kritik Immanuel Kant terhadap argumen ontologis Anselm kurang relevan, karena tidak memahami argumen ontologis dengan benar. Namun, argumen ontologis harus dipertimbangkan secara kritis dan independen.

Buku "God, Freedom, and Evil" karya Alvin Plantinga sebenarnya tidak mencoba membuktikan secara langsung bahwa Tuhan ada. Alih-alih itu, buku tersebut mencoba mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang terkait dengan keberadaan Tuhan dan bagaimana keberadaannya mempengaruhi keberadaan kebebasan manusia dan keberadaan kejahatan di dunia.

Namun, Alvin Plantinga memiliki argumen ontologis yang dikenal sebagai "modal ontological argument" yang dapat dianggap sebagai usaha untuk membuktikan secara langsung bahwa Tuhan ada. Argumen tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
Ada kemungkinan bahwa Tuhan ada.
Kemungkinan ini tidak mustahil, karena tidak ada kontradiksi dalam konsep Tuhan.
Oleh karena itu, Tuhan ada dalam salah satu dunia mungkin.
Jika Tuhan ada dalam satu dunia mungkin, maka Tuhan ada di semua dunia.
Oleh karena itu, Tuhan ada di dunia aktual (dunia di mana kita hidup).
Namun, argumen ontologis seperti ini sangat kontroversial dan telah dikritik oleh banyak filosof, sehingga tidak dapat dianggap sebagai bukti pasti bahwa Tuhan ada. Beberapa kritik yang umum terhadap argumen ini adalah bahwa konsep Tuhan yang digunakan tidak dapat dibuktikan secara empiris, dan bahwa argumen tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan dalam dunia aktual.

Dalam hal ini, penting untuk dicatat bahwa apakah Tuhan ada atau tidak adalah pertanyaan fundamental dalam filsafat dan teologi yang tidak memiliki jawaban pasti. Hal ini disebabkan karena masalah ini melibatkan keyakinan, keyakinan personal, serta interpretasi terhadap bukti-bukti yang beragam dan kompleks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar