Dalam bukunya "God, Freedom, and Evil," Alvin Plantinga membahas beberapa argumen dalam bidang teologi alami (natural theology) yang mencoba untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Berikut adalah penjelasan singkat untuk setiap poin:
a. The Cosmological Argument (Argumen Kosmologis): Argumen ini berdasarkan pada prinsip sebab-akibat, yaitu bahwa setiap efek memerlukan penyebabnya. Oleh karena itu, alam semesta sebagai sebuah efek memerlukan penyebabnya yang pertama dan terakhir, yang kita sebut sebagai Tuhan.
b. The Teleological Argument (Argumen Teleologis): Argumen ini mengacu pada rancangan dan tujuan dalam alam semesta, dan menyimpulkan bahwa harus ada Tuhan yang merancang dan memberikan tujuan ini.
c. The Ontological Argument (Argumen Ontologis): Argumen ini berdasarkan pada pengertian konseptual tentang Tuhan dan menyimpulkan bahwa karena Tuhan adalah keberadaan yang paling sempurna, maka Tuhan haruslah ada dalam kenyataan.
Gaunilo's Objection (Penolakan Gaunilo): Gaunilo adalah seorang kritikus yang menolak argumen Ontologis dengan mengajukan contoh sebuah pulau paling sempurna yang tidak perlu ada dalam kenyataan.
Anselm's Reply (Balasan Anselm): Anselm merespon penolakan Gaunilo dengan mengatakan bahwa perbandingan antara pulau dan Tuhan tidak tepat, karena keberadaan Tuhan adalah sebuah keharusan logis yang berbeda dengan keberadaan objek-objek fisik.
Kant's Objection (Penolakan Kant): Kant menolak argumen Ontologis dengan menyatakan bahwa keberadaan tidak bisa dianggap sebagai sebuah sifat dari sebuah objek, sehingga tidak mungkin untuk menyimpulkan keberadaan Tuhan hanya dari konsep tentang Tuhan.
The Irrelevance of Kant's Objection (Ketidakterkaitan Penolakan Kant): Plantinga menyatakan bahwa penolakan Kant tidak relevan terhadap argumen Ontologis yang telah dimodifikasi.
The Argument Restated (Argumen Dinyatakan Kembali): Plantinga menyatakan kembali argumen Ontologis dengan menggambarkan keberadaan Tuhan sebagai sebuah keharusan logis, dan menunjukkan bahwa keharusan ini memerlukan keberadaan Tuhan sebagai sebuah fakta.
Its Fatal Flaw (Kelemahan Fatal): Plantinga menunjukkan bahwa argumen Ontologis menderita kelemahan fatal karena mengasumsikan bahwa keberadaan adalah sebuah sifat, padahal keberadaan sebenarnya bukanlah sebuah sifat.
A Modal Version of the Argument (Versi Modal dari Argumen): Plantinga memperkenalkan sebuah versi modal dari argumen Ontologis, yang menggunakan konsep kemungkinan dan keharusan logis untuk menyimpulkan keberadaan Tuhan.
A Flaw in the Ointment (Kelemahan dalam Argumen): Plantinga menunjukkan bahwa versi modal dari argumen Ontologis juga menderita kelemahan fatal karena asumsi-asumsi
Argumen Versi Modal (halaman 104-105) Plantinga menyajikan versi modal dari argumen ontologis, yang menurutnya merupakan versi yang paling meyakinkan. Dia berargumen bahwa keberadaan Tuhan itu perlu atau tidak mungkin, dan karena itu bukan tidak mungkin, itu harus diperlukan. Dengan kata lain, jika Tuhan ada, maka dia pasti ada. Plantinga mengklaim bahwa ini adalah argumen yang sahih, tetapi tidak jelas apakah benar. Kritikus berpendapat bahwa tidak jelas apakah konsep tentang Tuhan itu koheren atau bahwa keberadaan Tuhan itu perlu.
Cacat pada Salep (halaman 106)
Plantinga membahas keberatan umum terhadap argumen ontologis, yang tampaknya memungkinkan keberadaan apa pun yang dapat dianggap ada sebagai keharusan. Plantinga menjawab dengan menyatakan bahwa argumen tersebut hanya berlaku untuk konsep Tuhan, yang merupakan konsep unik yang tidak dapat direduksi menjadi konsep lain. Dia berpendapat bahwa konsep Tuhan mencakup keagungan maksimal, yang memerlukan keberadaan yang diperlukan. Oleh karena itu, argumen tersebut tidak mengizinkan keberadaan apa saja yang dapat dibayangkan sebagai keberadaan yang pasti.
Argumen Diulang (halaman 108)
Plantinga menyatakan kembali argumen ontologis dalam istilah modal, menyatakan bahwa keberadaan Tuhan itu perlu atau tidak mungkin. Karena bukan tidak mungkin, itu harus diperlukan. Dia berpendapat bahwa konsep Tuhan mencakup keagungan maksimal, yang memerlukan keberadaan yang diperlukan. Karena itu, jika Tuhan ada, dia pasti ada.
Kemenangan Argumen (halaman 110)
argumen ontologis adalah argumen yang berhasil untuk keberadaan Tuhan. Dia mengakui bahwa argumen tersebut tidak persuasif untuk semua orang, tetapi dia percaya bahwa itu adalah argumen yang masuk akal dan memberikan alasan yang meyakinkan untuk keberadaan Tuhan. Namun, kritik terhadap argumen ontologis terus mengajukan keberatan, dan perdebatan tentang validitas argumen tetap berlangsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar