Halaman

Minggu, 16 April 2023

God, Freedom, and Evil

Argumen kosmologis:  Thomas Aquinas menggunakan logika filosofis untuk membuktikan bahwa ada setidaknya satu makhluk yang diperlukan untuk menjaga keberadaan alam semesta. Makhluk ini disebut sebagai "necessary being," yang tidak mungkin tidak ada dan dianggap sebagai Allah oleh Plantinga. Namun, konsep makhluk yang diperlukan atau "necessary being" sangat abstrak dan sulit dipahami.

Argumen teleologis : keberadaan alam semesta menunjukkan adanya desain atau rancangan yang sengaja diciptakan oleh entitas yang sangat kuat dan bijaksana. keberadaan desain dalam alam semesta menunjukkan adanya entitas yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas dan memiliki pengetahuan yang mutlak tentang masa depan dan keadaan alam semesta, yang merupakan Tuhan yang sesungguhnya. 
Kritik David Hume terhadap argumen teleologis, bahwa argumen Paley kurang kuat karena tidak bisa menunjukkan bahwa entitas yang diduga menciptakan alam semesta adalah Tuhan yang satu dan tunggal, dan bahwa contoh-contoh yang digunakan oleh para pendukung argumen teleologis hanya mengambil contoh-contoh yang terlihat berfungsi dengan baik dan mengabaikan contoh-contoh yang kurang sempurna.


Argumen ontologis : keberadaan Tuhan bukan hanya ada dalam pemikiran manusia, tetapi juga ada di dunia nyata. Argumen ini didasarkan pada gagasan bahwa Tuhan adalah entitas yang paling besar dan mutlak, dan bahwa tidak mungkin ada entitas yang lebih besar dari Tuhan. Jika Tuhan hanya ada dalam pemikiran manusia, maka akan ada kemungkinan bahwa ada entitas yang lebih besar dari Tuhan, yang tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, Tuhan harus ada dalam kenyataan. Meskipun argumen ontologis ini kontroversial dan belum berhasil meyakinkan banyak orang, Argumen yang menarik karena membahas banyak masalah filosofis yang sulit dan rumit.

Argumen ontologis Anselm : bahwa ada entitas yang tidak mungkin lebih besar lagi, dan jika konsep tentang entitas tersebut ada, maka entitas tersebut pasti ada dalam kenyataan.  Argumen Gaunilo yang menggunakan analogi tentang pulau yang tidak ditemukan tidak dapat digunakan untuk menolak argumen ontologis Anselm karena Gaunilo salah memahami argumen tersebut. Argumen Anselm berbicara tentang entitas yang tidak mungkin lebih besar lagi, sedangkan analogi Gaunilo tentang pulau yang tidak ditemukan berbicara tentang entitas yang sebenarnya lebih besar dari yang lain.

Kritik terhadap argumen ontologis Anselm tentang keberadaan Tuhan sebagai entitas yang paling besar atau sempurna.  Analogi antara ide sebuah pulau yang paling besar dengan ide Tuhan yang paling besar tidak tepat, karena tidak ada batasan intrinsik yang dapat diterapkan pada pulau, sementara sifat-sifat Tuhan seperti kebijaksanaan, pengetahuan, kekuatan, dan keutamaan moral memiliki batas intrinsik yang jelas. Oleh karena itu, gagasan tentang keberadaan Tuhan yang paling besar dan sempurna menjadi konsisten dan mungkin. Namun,  ada beberapa ketidakjelasan dalam argumen Anselm, terutama dalam kaitannya dengan kualitas seperti kasih sayang. 
Evolusi tidak mengancam keberadaan Tuhan sebagai pencipta, karena Tuhan dapat mengarahkan evolusi untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Tuhan dapat menciptakan makhluk hidup melalui evolusi dengan memberikan intervensi khusus atau keajaiban jika diperlukan untuk mencapai rencana-Nya.  Evolusi dan kepercayaan agama dapat saling melengkapi dan memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang asal usul dan tujuan kehidupan.

Kritik Immanuel Kant terhadap argumen ontologis. Ia menyatakan bahwa Kant tidak memahami argumen ontologis dengan benar, karena jika yang dimaksud oleh Kant adalah bahwa Anselm mencoba mendefinisikan keberadaan Tuhan ke dalam sebuah konsep dengan menambahkan eksistensi ke dalam daftar sifat yang mendefinisikan konsep tersebut, maka kritik Kant tidak relevan dengan argumen ontologis Anselm.  Kritik umum terhadap argumen ontologis Anselm memiliki kekurangan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa argumen itu berhasil.  bahwa argumen ontologis hadir dalam berbagai versi yang berbeda dan harus dipertimbangkan secara terpisah, sehingga perlu dianalisis secara kritis dan independen. Dengan demikian,   kritik Kant terhadap argumen ontologis Anselm dan menegaskan bahwa argumen ontologis perlu dievaluasi dengan cermat dan terpisah berdasarkan versinya.

Argumen tentang keberadaan Tuhan berdasarkan gagasan bahwa pasti ada makhluk yang tidak mungkin ada yang lebih besar.  Cacat fatal dalam argumen ini karena mengandung premis yang tidak dapat diterima, seperti anggapan bahwa Tuhan adalah makhluk. penggunaan konsep sifat untuk merumuskan ulang argumen tersebut dan menghindari asumsi bahwa Tuhan adalah makhluk. Selain itu, Plantinga juga mempertanyakan anggapan tentang makhluk yang tidak mungkin ada yang lebih besar dan menemukan kebingungan dalam argumen tersebut. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa versi argumen ini gagal karena ambigu dan membuat asumsi yang dipertanyakan.

Kelemahan dalam argumen ontologis tentang keberadaan Tuhan.  argumen tersebut dapat diperbaiki dengan mempertimbangkan tuntutan penghormatan agama, yaitu objek ibadah agama yang memadai harus memiliki keunggulan yang diperlukan, bukan hanya kebetulan. bedakan antara keunggulan dan kehebatan makhluk, suatu makhluk memiliki kehebatan maksimal di dunia hanya jika ia memiliki sifat-sifat yang diperlukan di semua kemungkinan dunia, seperti kemahatahuan, kemahakuasaan, dan kesempurnaan moral. Oleh karena itu, keberadaan Tuhan sebagai makhluk dengan kehebatan maksimal harus memiliki sifat-sifat ini di semua kemungkinan dunia.

Argumen ontologis untuk membuktikan keberadaan Allah. konsep "kebesaran maksimal" atau "maximal greatness" yang merupakan sifat dari entitas yang paling besar yang mungkin ada. jika kebesaran maksimal adalah mungkin ada, maka entitas yang memiliki sifat tersebut pasti ada dalam setidaknya satu dunia yang mungkin ada, termasuk Allah - entitas yang memiliki sifat-sifat seperti keabadian, kekuasaan, pengetahuan, dan kesempurnaan moral.
Namun,  argumen ontologis ini tidak langsung membuktikan keberadaan Allah. Meskipun argumen tersebut valid, premis utamanya - bahwa kebesaran maksimal mungkin ada - masih dapat diperdebatkan. Oleh karena itu, argumen ini hanya membuktikan bahwa keberadaan Allah secara rasional dapat diterima, tetapi tidak membuktikan keberadaannya dengan pasti.

Kesimpulan  argumen ontologis ini berhasil membuktikan bahwa keberadaan Allah adalah secara rasional dapat diterima dan memenuhi tujuan dari tradisi teologi alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar