Sabtu, 11 Maret 2023
Logika
EPISTEMOLOGY
ALIRAN EPISTEMOLOGI 1. RASIONALISME Aliran Rasionalisme berpendapat bahwa semua pengetahuan bersumber pada akal atau rasio. Tokoh yang menonjol dalam aliran ini adalah Rene Descartes. la mengatakan “hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Rasio pulalah yang dapat memberi pimpinan dalam segala jalan pikiranâ€. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang diterangi oleh terang benderang (innate ideas = ide bawaan) yang dibawa sejak lahir sebagai pemberian dari Tuhan.
. EMPIRISME Aliran ini berpendirian bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman indra. Indra memperoleh pengalaman dari alam impiris. Selanjutnya pengalaman (kesan-kesan) tersebut terkumpul dalam diri manusia sehinga menjadi pengalaman. Tokohnya: John Locke, David Hume, dll.
Suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-oby
yang kita serap lewat indra adalah nyata dalam diri obyek |
tersebut. Obyek-obyek tersebut tidak tergantung pada
subyek yang mengetahui atau tidak tergantung pada pikil
subyek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi
interaksi tersebut mempengaruhi sifat dasar dunia tersebut.
Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari, serta akan tetap
Va ada setelah pikiran berhenti menyadari. Tokohnya adalah:
Aristoteles, yang berpendapat bahwa ‘realitas berada dalam
benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses
3. REALISME
Suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-obyek
yang kita serap lewat indra adalah nyata dalam diri obyek
tersebut. Obyek-obyek tersebut tidak tergantung pada
subyek yang mengetahui atau tidak tergantung pada pikiran
subyek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi
interaksi tersebut mempengaruhi sifat dasar dunia tersebut.
Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari, serta akan tetap
ada setelah pikiran berhenti menyadari. Tokohnya adalah:
Aristoteles, yang berpendapat bahwa ‘realitas berada dalam
benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses
4. KRITISISME
Menyatakan bahwa akal menerima bahan-bahan
pengetahuan dari empiris (yang meliputi indra dan
pengetahuan). Kemudian akal menempatkan,
mengatur, dan menertibkan dalam bentuk-bentuk
pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan
merupakan permulaan pengetahuan, sedangkan
pengolahan akal merupakan pembentukannya.
Tokohnya adalah Imanuel Kant.
7. PRAGMATIS
Aliran ini mempersoalakan tentang hakikat
pengetahuan, namun mempertanyakan tentang
pengetahuan dengan manfaat atau guna dari
pengetahuan tersebut. Dengan lain perkataan kebenaran
pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan
sebagai sarana bagi suatu perbuatan. Tokohnya adalah:
C.S. Pierce, William James, John Dewey, dll.
METAFISIK
SEGI KUANTITAS
a. Spiritualisme: adalah filsafat yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam dalam alam semesta adalah roh. Tokohnya adalah: Plato, Leibniz, dll. b. Materialisme: aliran filsafat yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi. Pikiran dan kesadaran adalah hanya penjelmaan dari materi dan dapat dikembalikan pada unsur-unsur fisis. Yang dimaksud dengan materi adalah suatu hal yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk, menempati ruang. Hal-hal yang brsifat rohaniah seperti pikiran, jiwa, keyakinan, rasa sedih dan senang tidak lain hanyalah ungkapan proses kebendaan. Tokohnya: Demokritos, yang berpendapat bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang mempunyai bentuk dan badan. Jiwa juga terbentuk dari atom-atom yang lebih kecil. Thomas Hobes, mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini terbentuk dari materi yang'bergerak.
METAFISIKA
dan Antropologi. Ontologi membahas tentang sifat dasar dari kenyataan yang terdalam atau membahas azas-azas rasional dari kenyataan. Misalnya: apa artinya hal yang ada (being)?; apakah sifat dasar dari hal yang ada?; bagaimana menggolongkan dari hal ada?. Sedangkan Kosmologi membahas tentang hakekat alam semesta sebagai suatu system yang teratur. la mempersoalkan, apakah ruang itu?; apakah waktu itu?; apakah jenis tata-tertib yang ada dalam alam semesta?; dan lain-lain. Antropologi membahas tentang hakekat manusia yang mempunyai kemanusiaannya. la mempersoalkan, apakah manusia itu sebenarnya?; apakah hubungan satu dengan yang lain (jiwa dengan badan, manusia dengan binatang)?; apa sifat pendorong yang ain? d
Jumat, 10 Maret 2023
Pak
BABI YOHANES AMOS COMENIUS (KOMENSKY) BAPAK PENDIDIKAN MODERN Ruang lingkup pembahasan kita tentang sejarah pendidikan agama Kris- ten sudah mencakup dasamnya dalam kebudayaan Yunani, Romawi dan Yahudi. Kemudian, perkembangannya dimulai sejak kelahiran Yesus dari Nazaret sampai pada tahun 1556, yakni tahun wafatnya Ignatius Loyola, pendiri Kompi Yesus dan pelopor sistem persekolahan yang turut meraih kembali sebagian daerah Eropa Barat yang sudah memeluk agama Protestan. Selama jangka waktu 16 abad itu selalu saja ada pelayan Firman yang mengarang tentang teori dan praktek pendidikan agama Kristen serta mendorong gereja untuk menjadikan dirinya sebagai suatu paguyuban yang belajar-mengajar. Akan tetapi, sepanjang zaman Kristen tidak ada seorang pengarang pun yang memusatkan seantero usahanya pada pe- layanan pedagogis, entah yang ada di kalangan gereja ataupun di luarnya. Bagi mereka ini, pendidikan selalu dianggap sebagai pelayanan pelengkap di antara sekian banyak pelayanan gerejawi di kalangan jemaat dan bukan sebagai bidang cakup yang berintegritas sendiri. Itulah sebabnya pikiran Yohanes Amos Comenius ini merupakan perubahan mencolok tentang cara orang berpikir tentang pelayanan dan pelaksanaan pendidikan. Sumbangan Comenius begitu berbobot, schingga di kemudian hari ia menerima gelar kehormatan, “Bapa Pendidikan Modernâ€. Mengingat prestasi yang lumayan itu, timbullah pertanyaan: Mengapa nama pelayan Firman ini cenderung asing bagi kebanyakan tamatan sekolah tinggi teo- logi? Rupanya, jawabannya harus digali dalam negeri asalnya, yakni ne- geri Ceko yang tidak memainkan peranan menentukan dalam percaturan politis Eropa pada zamannya. Di samping itu, ia adalah anggota Per-
Kamis, 09 Maret 2023
Filsafat Kontinental: Rasionalisme dan Empirisme
Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Matematika
Filsafat Budaya
Filsafat Agama dan Kepercayaan
Filsafat Politik dan Etika
Filsafat Analitik: Epistemologi dan Metafisika
Filsafat Analitik: Empirisme Logis dan Pemikiran Linguistik
Filsafat Kontinental: Pascamodernisme dan Positivisme
Filsafat Kontinental: Kantianisme dan Idealisme Jerman
Renaisans, Reformasi, dan Iluminasi
Filsafat Barat Abad Pertengahan: Kekristenan, Islam, dan Yahudi
Filosofi Barat Kuno: Filsafat Yunani Kuno
The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained
Daftar isi
- Filosofi Barat Kuno: Filsafat Yunani Kuno
- Filsafat Barat Abad Pertengahan: Kekristenan, Islam, dan Yahudi
- Renaisans, Reformasi, dan Iluminasi
- Filsafat Kontinental: Rasionalisme dan Empirisme
- Filsafat Kontinental: Kantianisme dan Idealisme Jerman
- Filsafat Kontinental: Pascamodernisme dan Positivisme
- Filsafat Analitik: Empirisme Logis dan Pemikiran Linguistik
- Filsafat Analitik: Epistemologi dan Metafisika
- Filsafat Politik dan Etika
- Filsafat Agama dan Kepercayaan
- Filsafat Budaya dan Estetika
- Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Matematika
Setiap bab membahas filosofi kunci dan pemikiran dari tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah filosofi, seperti Socrates, Plato, Aristotle, St. Augustine, St. Thomas Aquinas, Rene Descartes, Immanuel Kant, Friedrich Nietzsche, Ludwig Wittgenstein, dan masih banyak lagi. Buku ini dilengkapi dengan gambar, diagram, dan kutipan untuk memudahkan pemahaman.
Dikarang oleh Will Buckingham, Douglas Burnham, dan Peter J. King.
1
Berpikir Secara Kefilsafatan
1. Bersifat Kritis.Berpikir kefilsafatan melibatkankemampuan untuk mengevaluasi argumendan konsep secara kritis, denganmenggunakan alat pemikiran sepertianalisis dan deduksi.2. Bersifat Reflektif.Berpikir kefilsafatan juga melibatkankemampuan untuk merefleksikan dirisendiri dan pemikiran kita sendiri,serta bagaimana pemikiran kitaberkembang seiring waktu.3. Bersifat Abstrak.Berpikir kefilsafatan sering melibatkankonsep-konsep dan ide-ide yang abstrakdan sulit dipahami secara langsung,sehingga membutuhkan kemampuan untukberpikir secara konseptual danmenggunakan imajinasi.4. Bersifat Analitis.Berpikir kefilsafatan melibatkankemampuan untuk menganalisis danmemecah suatu fenomena atau konsepmenjadi bagian-bagiannya yang lebihkecil, sehingga memungkinkan untukmemahami bagaimana bagian-bagiantersebut saling terkait.5. Bersifat Sintetis.Selain analitis, berpikir kefilsafatanjuga melibatkan kemampuan untukmenyintesis berbagai konsep dan idemenjadi suatu kesatuan yang lebihbesar dan menyeluruh.6. Bersifat Komprehensif (menyeluruh). /
Hal ini berarti bahwa suatu pemikiran kefilsafatan bukan hanya berdasarkan pada suatu fakta yang khusus dan individual saja yang kemudian sampai pada suatu kesimpulan yang khusus dan individual juga, namun pemikiran kefilsafatan haruslah sampai kepada suatu kesimpulan yang sifatnya sampai umum. Bersifat komprehensif berarti tidak ada sesuatupun yang diluar jangkauannya.
7. Bersifat Universal. Bersifat universal berarti sampai pada suatu kesimpulan yang bersifat umum bagi seluruh umat manusia di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Memang dapat diakui bahwa untuk sampai pada kesimpulan universal tersebut, para filsuf memiliki metode sendiri-sendiri, namun memiliki suatu kesamaan yaitu yang dicapai adalah kenyataan universal yang disimpulkan dari fakta-fakta yang bersifat khusus. Dalam pengertian seperti inilah maka filsafat sering disebut sebagai pandangan dunia, karena memberikan kejelasan yang bersifat universal, yaitu tentang dunia dan apa yang ada di dalamnya.
8. Bersifat Spekulatif. Spekulatif atau perekaan berarti pengajuan dugaan-dugaan yang masuk akal (rasional) yang melampaui batas-batas fakta. Hal in. merupakan semacam kegiatan yang berdisiplin menghadapi persoalan- persoalan filsafat yang menuntut pemecahan yang bijaksana. Tujuan dari perekaan adalah menyatupadukan dari semua pengetahuan pikiran dan pengalaman manusia menjadi suatu pandangan yang komprehensif. Ini dapat dilakukan dengan cara merenungkan secara menyeluruh dari hasil-hasil berbagai macam ilmu dengan menambahkan kepada hasil- hasil dari pengalaman etis keagamaan. Dengan cara yang demikian ini diharapkan bahwa beberapa kesimpulan umum mengenai sifat dasar alam semesta, serta kedudukan dan prospek manusia di dalamnya dapat dicapainya. Ini merupakan suatu perenungan mengenai perspektif yang universal yang berdasarkan pada suatu sintesis dan penafsiran dari hasil- hasil semua refleksi manusia. Maka perekaan ini berusaha untuk menyatukan semua tahap dari pengalaman manusia ke dalam suatu kesatuan keseluruhan yang komprehensif dan bermakna.
10. Bersifat Bebas.
Suatu bentuk pengekangan intelektual adalah
meniadakan kebebasan atas berpikir. Sifat berpikir secar.
kefilsafatan adalah bebas untuk sampai pada hakikat yang
terdalam dan universal, termasuk bebas untuk dikoreksi.
Karena itu ciri kreativitas senantiasa ada dalam cara
berpikir kefilsafatan. Sokrates memilih lebih baik mati
minum racun dari pada kebebasannya berpikir ditiadakan.
Pengekangan atas pemikiran ini dapat terwujud dalam
berbagai macam bidang. Kemerdekaan dalam berpikir
inilah yang nampaknya memerlukan perhatian kalangan
filsuf, ilmuwan, teolog, dan hal ini dapat diatasi, manakala
kita memahami secara sunguh-sunguh makna berpikir
secara kefilsafatan.
Berpikir Secara Kefilsafatan memiliki beberapa sifat lainnya selain yang telah disebutkan, di antaranya adalah:
Kritis: Berpikir kefilsafatan melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi argumen dan konsep secara kritis, dengan menggunakan alat pemikiran seperti analisis dan deduksi.
Reflektif: Berpikir kefilsafatan juga melibatkan kemampuan untuk merefleksikan diri sendiri dan pemikiran kita sendiri, serta bagaimana pemikiran kita berkembang seiring waktu.
Abstrak: Berpikir kefilsafatan sering melibatkan konsep-konsep dan ide-ide yang abstrak dan sulit dipahami secara langsung, sehingga membutuhkan kemampuan untuk berpikir secara konseptual dan menggunakan imajinasi.
Analitis: Berpikir kefilsafatan melibatkan kemampuan untuk menganalisis dan memecah suatu fenomena atau konsep menjadi bagian-bagiannya yang lebih kecil, sehingga memungkinkan untuk memahami bagaimana bagian-bagian tersebut saling terkait.
Sintetis: Selain analitis, berpikir kefilsafatan juga melibatkan kemampuan untuk menyintesis berbagai konsep dan ide menjadi suatu kesatuan yang lebih besar dan menyeluruh.Kefilsafatan dan Cara Berpikir.
victorjulu@gmail.comTolong jelaskan yang belum lengkap yaitu nomor 1 sampai 5 judulnya "Berpikir Secara Kefilsafatan6. Bersifat Komprehensif (menyeluruh)7. Bersifat Universal.8. Bersifat Spekulatif.9. Bersifat Sistematis.10. Bersifat Bebas."Berpikir Secara Kefilsafatan:Ini adalah judul yang sudah lengkap dan tidak memerlukan penjelasan tambahan. Berpikir secara kefilsafatan merujuk pada cara berpikir yang mempertimbangkan aspek-aspek filosofis dan konseptual dalam mengevaluasi fenomena dunia.Bersifat Komprehensif (menyeluruh):Judul ini dapat dijelaskan sebagai cara pandang yang mencakup semua aspek yang relevan dari suatu masalah atau topik yang sedang dibahas. Dengan kata lain, cara pandang ini melihat suatu fenomena secara menyeluruh dan tidak hanya sebatas aspek-aspek yang terlihat saja.Bersifat Universal:Judul ini merujuk pada suatu konsep atau ide yang berlaku di seluruh dunia dan tidak terbatas pada waktu atau tempat tertentu. Bersifat universal artinya dapat diterapkan pada berbagai situasi atau keadaan tanpa terpengaruh oleh perbedaan budaya atau lokasi geografis.Bersifat Spekulatif:Judul ini mengacu pada cara berpikir yang mengandalkan spekulasi atau dugaan sebagai dasar dari pemikiran atau argumen. Dalam konteks kefilsafatan, bersifat spekulatif berarti mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan menyelidiki implikasi konseptual dari suatu fenomena tanpa bergantung pada pengamatan empiris.Bersifat Sistematis:Judul ini menggambarkan suatu cara berpikir yang teratur dan terstruktur dengan tujuan untuk memahami suatu fenomena secara menyeluruh. Dalam konteks kefilsafatan, bersifat sistematis artinya menggunakan kerangka berpikir yang teratur dan logis untuk memahami masalah atau topik yang dibahas.Bersifat Bebas:Judul ini merujuk pada suatu cara berpikir yang tidak terikat pada batasan atau kendala tertentu, sehingga memungkinkan untuk mempertimbangkan berbagai pandangan dan sudut pandang yang berbeda. Dalam konteks kefilsafatan, bersifat bebas berarti membuka diri untuk berbagai kemungkinan dan ide tanpa terikat pada dogma atau pandangan yang sudah mapan.victorjulu@gmail.comTolong berikan buku yang berhubungan dengan ituBerikut adalah beberapa contoh buku yang berhubungan dengan topik "Berpikir Secara Kefilsafatan" dan judul-judul yang terkait:"The Examined Life: How We Lose and Find Ourselves" oleh Stephen Grosz. Buku ini membahas bagaimana kefilsafatan dapat membantu kita memahami dan mengevaluasi diri sendiri dan kehidupan kita secara lebih mendalam."The Republic" oleh Plato. Buku klasik ini merupakan panduan kefilsafatan terkenal yang membahas berbagai topik, seperti keadilan, kebijaksanaan, dan kebahagiaan."The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained" oleh Will Buckingham, Douglas Burnham, dan Peter J. King. Buku ini memberikan pengantar yang mudah dipahami tentang berbagai konsep dan teori kefilsafatan."Meditations" oleh Marcus Aurelius. Buku ini merupakan kumpulan pikiran kefilsafatan dari seorang kaisar Romawi yang membahas bagaimana cara berpikir kefilsafatan dapat membantu kita hidup lebih bahagia dan bermakna."A Guide to the Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy" oleh William B. Irvine. Buku ini membahas bagaimana filosofi stoik dapat membantu kita mencapai kebahagiaan dan hidup dengan lebih baik melalui cara berpikir kefilsafatan yang tepat.victorjulu@gmail.comBerpikir Secara Kefilsafatan terdiri dari:6. Bersifat Komprehensif (menyeluruh)7. Bersifat Universal.8. Bersifat Spekulatif.9. Bersifat Sistematis.10. Bersifat Bebas.Selain bersifat diatas tolong sebutkan bersifat lainnya.Berpikir Secara Kefilsafatan memiliki beberapa sifat lainnya selain yang telah disebutkan, di antaranya adalah:Tolong sebutkan buku yang menjelaskan diatasBerikut adalah beberapa contoh buku yang dapat membantu Anda memahami sifat-sifat berpikir kefilsafatan yang telah disebutkan:"Being Logical: A Guide to Good Thinking" oleh D.Q. McInerny. Buku ini membahas bagaimana untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi argumen secara logis."Meditations" oleh Marcus Aurelius. Buku ini memaparkan bagaimana filosofi stoik dapat membantu kita merefleksikan diri sendiri dan hidup dengan lebih baik melalui cara berpikir kefilsafatan yang tepat."Concepts: Where Cognitive Science Went Wrong" oleh Jerry A. Fodor. Buku ini membahas tentang konsep dan ide-ide abstrak dan bagaimana kita memahaminya."Think Again: How to Reason and Argue" oleh Walter Sinnott-Armstrong. Buku ini membahas cara berpikir analitis dalam mengevaluasi argumen dan membuat kesimpulan yang tepat."Philosophy for Life: And Other Dangerous Situations" oleh Jules Evans. Buku ini membahas bagaimana filosofi dapat membantu kita menyintesis berbagai konsep dan ide menjadi suatu kesatuan yang lebih besar dan menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari.
Senin, 06 Maret 2023
Epilog
Martin Heidegger
Bertrand Russell
Benedetto Croce
Henri Bergson
Friedrich Nietzsche
Johann Gottfried von Herder
Immanuel Kant
Jean-Jacques Rousseau
Voltaire
David Hume
George Berkeley
John Locke
Benedict Spinoza
Rene Descartes
Thomas Hobbes
Francis Bacon
Erasmus
Machiavelli
William of Occam
St. Thomas Aquinas
St. AugustineSt
argumen teleologis
William Paley, seorang filsuf terkemuka abad ke-18 dan Archdeacon of Carlisle, mengajukan versi klasik dari argumen teleologis: Jika saat me...
-
Filsafat Kontinental adalah salah satu tradisi filsafat terpenting dalam sejarah Barat, yang berpusat di Eropa daratan, khususnya Jerman dan...
-
Pythagoras Heraclitus Parmenides Empedocles Anaxagoras The Atomists Protagoras and the Sophists Socrates Plato Aristotle Epicurus The Stoics...
-
Dari buku "God, Freedom, and Evil" karya Alvin Plantinga, dapat diringkas sebagai berikut: Argumen kosmologis mengatakan bahwa se...