Halaman

Sabtu, 11 Maret 2023

Logika

DEFINISI

Logika adalah ilmu yang mempelajari pengkajian yang
sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan sebab-sebab
mengenai kesimpulan. Logika pada hakekatnya mempelajari
tehnik-tehnik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu
perangkat bahan tertentu, atau dari suatu premis-premis tertentu.

Logika disebut juga sebagai ilmu tentang penarikan kesimpulan
yang benar.

Logika dibagi menjadi dua macam, yaitu:

a. Logika Deduktif: Deduksi adalah cara berpikir dari pernyataan
yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khusus.

b. Logika Induktif: adalah penalaran yang berangkat dari


EPISTEMOLOGY

DEFINISI

Epistemologi berasal dari kata Yunani episteme, yang berarti
pengetahuan. Secara umum epistemology adalah cabang
filsafat yang membahas tentang hakekat pengetahuan
manusia, yaitu tentang sumber, watak, dan kebenaran
pengetahuan. Persoalan-persoalan pokok dalam epistemology
antara lain: (a) Apakah sumber-sumber pengetahuan?. Dari
mana pengetahuan yang benar datang. (b)Apakah watak dari
pengetahuan?. Adakah dunia yang real diluar akal, dan kalau
ada, dapatkah kita mengetahui?. (c). Apakah pengetahuan kita
itu benar (Valid)?. Bagaimana membedakan kebenaran dan
kekeliruan?

ALIRAN EPISTEMOLOGI 

1. RASIONALISME

Aliran Rasionalisme berpendapat bahwa semua
pengetahuan bersumber pada akal atau rasio. Tokoh
yang menonjol dalam aliran ini adalah Rene
Descartes. la mengatakan “hanya rasio sajalah yang
dapat membawa orang kepada kebenaran. Rasio
pulalah yang dapat memberi pimpinan dalam segala
jalan pikiran”. Adapun yang benar itu hanya tindakan
budi yang diterangi oleh terang benderang (innate
ideas = ide bawaan) yang dibawa sejak lahir sebagai
pemberian dari Tuhan.

. EMPIRISME

Aliran ini berpendirian bahwa semua
pengetahuan manusia diperoleh melalui
pengalaman indra. Indra memperoleh
pengalaman dari alam impiris. Selanjutnya
pengalaman (kesan-kesan) tersebut terkumpul
dalam diri manusia sehinga menjadi pengalaman.
Tokohnya: John Locke, David Hume, dll.

Suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-oby
yang kita serap lewat indra adalah nyata dalam diri obyek |
tersebut. Obyek-obyek tersebut tidak tergantung pada
subyek yang mengetahui atau tidak tergantung pada pikil
subyek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi

interaksi tersebut mempengaruhi sifat dasar dunia tersebut.
Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari, serta akan tetap
Va ada setelah pikiran berhenti menyadari. Tokohnya adalah:
Aristoteles, yang berpendapat bahwa ‘realitas berada dalam
benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses

3. REALISME

Suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-obyek
yang kita serap lewat indra adalah nyata dalam diri obyek
tersebut. Obyek-obyek tersebut tidak tergantung pada
subyek yang mengetahui atau tidak tergantung pada pikiran
subyek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi
interaksi tersebut mempengaruhi sifat dasar dunia tersebut.
Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari, serta akan tetap
ada setelah pikiran berhenti menyadari. Tokohnya adalah:
Aristoteles, yang berpendapat bahwa ‘realitas berada dalam
benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses
4. KRITISISME

Menyatakan bahwa akal menerima bahan-bahan
pengetahuan dari empiris (yang meliputi indra dan
pengetahuan). Kemudian akal menempatkan,
mengatur, dan menertibkan dalam bentuk-bentuk
pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan
merupakan permulaan pengetahuan, sedangkan
pengolahan akal merupakan pembentukannya.
Tokohnya adalah Imanuel Kant.



7. PRAGMATIS

Aliran ini mempersoalakan tentang hakikat
pengetahuan, namun mempertanyakan tentang
pengetahuan dengan manfaat atau guna dari
pengetahuan tersebut. Dengan lain perkataan kebenaran
pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan
sebagai sarana bagi suatu perbuatan. Tokohnya adalah:
C.S. Pierce, William James, John Dewey, dll.


METAFISIK

METAFISIK/ FYE ELE FA &
—

SEGI PROSES PENJADIANNYA MAUPUN PERUBAHAN

a. Mekanisme: Menurut aliran ini semua gejala atau peristiwa
seluruhnya dapat diterangkan berdasarkan pada azas-azas mekanis
(mesin). Semua peristiwa adalah hasil dari materi yang bergerak dan
dapat diterangkan dengan hukum-hukumnya. Alam dianggapnya
seperti mesin yang fungsi seluruhnya adalah ditentukan oleh
bagiannya secara otomatis.

b. Teleologis: (serba tujuan), aliran ini tidak mengingkari hukum sebab-
akibat, tetapi berpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam
bukanlah hukum sebab akibat, tetapi awal mulanya memang ada
sesuatu kemauan, kekuatan yang mengarah pada suatu tujuan.

c. Vitalisme: yang menyatakan bahwa hidup tidak dapat dijelaskan
secara fisik-kiamiawi, karena berbeda dengan segala sesuatu yang
tidak hidup.

SEGI KUANTITAS

Monisme: adalah filsafat yang menyatakan bahwa hanya ada
satu kenyataan yang terdalam (yang fundamental). Kenyataan
tersebut bisa berupa roh (jiwa), materi, Tuhan atau substansi lain
yang tidak diketahui. Hal ini diungkapkan oleh Filsuf Yunani
kuno, seperti Thales, Anaximander, Anaximenes, dll.

b. Dualisme: (serba dua) yaitu aliran yang menyatakan adanya dua
substansi pokok yang masing-masing berdiri sendiri. Seperti
Plato membedakan antara dunia ide dan dunia bayang-bayang.

. Pluralisme: (serba ganda) yaitu aliran filsafat yang tidak
mengakui adanya satu substansi atau dua substansi, melainkan
mengakui adanya banyak substansi. Tokohnya: Empidokles,
Anaxagoras, dll.
a. Spiritualisme: adalah filsafat yang menyatakan bahwa kenyataan yang
terdalam dalam alam semesta adalah roh. Tokohnya adalah: Plato,
Leibniz, dll.

b. Materialisme: aliran filsafat yang menyatakan bahwa tidak ada hal
yang nyata kecuali materi. Pikiran dan kesadaran adalah hanya
penjelmaan dari materi dan dapat dikembalikan pada unsur-unsur fisis.
Yang dimaksud dengan materi adalah suatu hal yang kelihatan, dapat
diraba, berbentuk, menempati ruang. Hal-hal yang brsifat rohaniah
seperti pikiran, jiwa, keyakinan, rasa sedih dan senang tidak lain
hanyalah ungkapan proses kebendaan. Tokohnya: Demokritos, yang
berpendapat bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang
mempunyai bentuk dan badan. Jiwa juga terbentuk dari atom-atom
yang lebih kecil. Thomas Hobes, mengatakan bahwa segala sesuatu di
dunia ini terbentuk dari materi yang'bergerak.

METAFISIKA

Istilah “metafisika” berasal dari bahasa Yunani, yang
berarti hal-hal yang berada sesudah/dibalik fisika. Istilah
ini dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang telaah
segala sesuatu secara mendalam atau sifat yang
terdalam dari kenyataan (ultimate natural). Bila
dibandingkan dengan ilmu fisika (mempelajari segala
benda fisik), ilmu biologi (mempelajari gejala-gejala
fisik makhluk hidup), maka metafisika mempelajari dan
membahas tentang keberadaan segala sesuatu benda
fisis dari segi hakekat yang terdalam
Metafisika ini dibagi menjadi tiga cabang yaitu: Ontologi, Kosmologi,
dan Antropologi. Ontologi membahas tentang sifat dasar dari
kenyataan yang terdalam atau membahas azas-azas rasional dari
kenyataan. Misalnya: apa artinya hal yang ada (being)?; apakah sifat
dasar dari hal yang ada?; bagaimana menggolongkan dari hal ada?.
Sedangkan Kosmologi membahas tentang hakekat alam semesta
sebagai suatu system yang teratur. la mempersoalkan, apakah ruang
itu?; apakah waktu itu?; apakah jenis tata-tertib yang ada dalam alam
semesta?; dan lain-lain. Antropologi membahas tentang hakekat
manusia yang mempunyai kemanusiaannya. la mempersoalkan, apakah
manusia itu sebenarnya?; apakah hubungan satu dengan yang lain (jiwa
dengan badan, manusia dengan binatang)?; apa sifat pendorong yang
ain? d

CABANG FILSAFAT

EPISTEMOLOGY
METHODOLOGI
LOGIKA
ETIKA
ESTETIKA